Slawi FM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tegal terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui digitalisasi pelayanan dasar, perluasan pembiayaan jaminan kesehatan, hingga percepatan penurunan angka stunting. Langkah taktis ini menjadi pilar utama pemerintah daerah dalam menyokong pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang unggul.
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, Edy Sucipto, menegaskan bahwa kemudahan akses layanan kesehatan yang cepat, terjangkau, dan merata bagi seluruh lapisan warga kini menjadi prioritas utama instansinya.
” Salah satu layanan unggulan kami adalah berobat gratis di puskesmas. Seluruh warga Kabupaten Tegal kini bisa mendapatkan pelayanan kesehatan dasar hanya dengan menunjukkan KTP,” ujar Edy saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (07/07/2026).
Edy memaparkan bahwa pembiayaan program tersebut disokong oleh Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan Program Penerima Bantuan Iuran (PBI) APBD Pemda.
Untuk mengakomodasi warga yang belum memiliki kepesertaan BPJS Kesehatan, Dinkes memastikan mereka tetap mendapatkan pelayanan dasar di puskesmas secara cuma-cuma. Jika pasien membutuhkan rujukan ke faskes lanjutan, barulah sistem akan mengintegrasikan mereka ke dalam Program PBI Pemda sesuai regulasi yang berlaku. Demi menyokong layanan dasar ini, Pemkab Tegal telah menggelontorkan anggaran sebesar Rp1 miliar.
Bukan hanya layanan dasar, Pemkab Tegal juga mengalokasikan anggaran jumbo senilai Rp33,6 miliar untuk Program PBI Pemda. Anggaran ini menyasar masyarakat rentan yang berada pada kategori Desil 1 hingga Desil 5, dengan proyeksi penambahan sekitar 600 peserta baru setiap bulannya.
Saat ini, cakupan kepesertaan JKN di Kabupaten Tegal telah menyentuh angka 94,07 persen. Pemerintah daerah pun optimistis mampu mengejar target Universal Health Coverage (UHC) sebesar 98 persen pada tahun 2029.
” Untuk mencapai cakupan total 100 persen, estimasi dukungan anggaran yang dibutuhkan berkisar di angka Rp100 miliar. Oleh sebab itu, akselerasi kepesertaan kami lakukan secara bertahap, menyesuaikan dengan kapasitas fiskal daerah,” urai Edy.
Sebagai catatan bagi peserta BPJS Mandiri yang statusnya nonaktif akibat menunggak, Edy mengimbau agar menyelesaikan tunggakan terlebih dahulu sebelum mengajukan migrasi menjadi peserta PBI Pemda. Dinkes Kabupaten Tegal mengombinasikan jaminan pembiayaan dengan aksi jemput bola di lapangan melalui serangkaian program taktis berikut:
Program Jaminan Persalinan (Jampersal) disiapkan anggaran sebesar Rp566 juta tahun ini untuk ibu hamil yang belum memiliki BPJS Kesehatan. Hingga Juli 2026, realisasi klaim telah mencapai Rp74 juta, dengan proses pengajuan berjalan sebesar Rp36 juta untuk melayani 34 ibu hamil, bersalin, dan nifas.
Dokter Spesialis Keliling (Spelling) merupakan program prioritas Pemprov Jawa Tengah untuk mendekatkan layanan spesialistik ke desa-desa. Melibatkan 11 rumah sakit (pemerintah dan swasta), program ini menghadirkan dokter spesialis kandungan, anak, penyakit dalam, paru, hingga jantung. Pada tahun 2026, Spelling ditargetkan menjangkau 26 desa, di mana empat desa di antaranya telah terealisasi.
Di sektor perbaikan gizi, kerja keras Dinkes Kabupaten Tegal menunjukkan progres signifikan. Prevalensi stunting di wilayah ini berhasil ditekan drastis dari 21 persen menjadi 15 persen. Langkah penanganan dilakukan melalui Pemberian Makanan Tambahan (PMT), edukasi gizi keluarga, hingga perawatan intensif anak gizi buruk dengan alokasi biaya Rp3 juta per anak.
Keberhasilan ini tidak lepas dari kolaborasi pentahelix lintas sektor. Dinkes menggandeng berbagai mitra strategis, antara lain Alfamart melalui Program Satu Hari Satu Telur dan Posyandu Alfamart, Polres Tegal dan Gerakan Pramuka mobilisasi edukasi lapangan serta Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) yang berfokus pada pelacakan kontak (contact tracing) penemuan kasus TBC aktif, sekaligus integrasi penurunan stunting.
Melengkapi program struktural, sepanjang tahun ini Dinkes juga menggelar berbagai aksi sosial insidental. Di antaranya sunatan massal gratis bagi 40 anak dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Tegal, operasi bibir sumbing lintas daerah, skrining IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) untuk deteksi dini kanker leher rahim, hingga pemeriksaan kesehatan gratis di kawasan industri.
Di akhir penjelasannya, Edy optimistis seluruh program ini linear dengan visi Bupati Tegal dalam mendongkrak kualitas SDM lokal. Keberhasilan pembangunan sektor kesehatan ini diukur secara rigid melalui empat indikator makro.
” Indikator utamanya adalah Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKBa), dan prevalensi stunting. Dalam dua tahun terakhir, grafik keempat indikator tersebut terus menunjukkan tren penurunan yang positif. Ini menjadi bukti konkret bahwa arah pembangunan kesehatan kita sudah berada di jalur yang benar (on the track),” pungkas Edy. (CF)
Penulis : Chairul Falah | Editor dan Publish : Chairul Falah








