Strategi Dongkrak Wisatawan, Pengelola Destinasi Harus Gesit dan Berbasis Data

banner 468x60

Slawi FM – Program Halo Slawi FM kali ini mengangkat diskusi strategis bertajuk “Smart Tactics For Sustainable Visitor Growth” pada Rabu (17/06/2026) pagi.

Diskusi interaktif ini mengupas tuntas formula jitu dalam mendongkrak pertumbuhan angka wisatawan secara konsisten, tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan serta kearifan budaya lokal.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Hadir sebagai narasumber utama, Direktur Politeknik Pancasakti Tegal, Prayitno, bersama Direktur Utama Perumda Owabong Purbalingga, Arif Taat Ujiyanto. Keduanya membedah sinergi kuat antara perspektif akademis dan eksekusi praktis dalam mengelola destinasi wisata modern.

Dalam pemaparannya, Direktur Utama Perumda Owabong Purbalingga, Arif Taat Ujiyanto, menekankan bahwa inti dari industri pariwisata adalah wisatawan itu sendiri sebagai pengguna layanan (user). Oleh karena itu, pengelola objek wisata dituntut untuk memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi (agility) dalam merespons kebutuhan pasar yang dinamis.

” Pengelola wisata harus senantiasa gesit beradaptasi dengan kebutuhan wisatawan masa kini. Langkah awal yang paling krusial adalah memahami dengan tepat klasifikasi segmen pelanggan (customer segment) yang disasar,” ujar Arif.

Arif menjelaskan, preferensi wisatawan saat ini sangat beragam. Ada kelompok yang berfokus pada kesehatan (wellness tourism), wisata alam, wisata minat khusus/tantangan, hingga wisata edukasi.

Lebih lanjut, ia menjelaskan pentingnya menerapkan 9 elemen strategis dalam Business Model Canvas (BMC) untuk menjaga keberlanjutan bisnis pariwisata di tengah tantangan ekonomi dan penurunan daya beli masyarakat saat ini.

Kesembilan poin tersebut meliputi Customer Segment (Segmen Pelanggan), Value Proposition (Nilai Jual/Keunikan Destinasi), Customer Relationship (Hubungan dengan Pelanggan), Channels (Saluran Pemasaran), Key Activities (Aktivitas Utama), Key Resources (Sumber Daya Utama), Key Partners (Mitra Strategis), Revenue Streams (Arus Pendapatan) dan Cost Structure (Struktur Biaya).

” Melalui pemetaan sembilan elemen ini, destinasi wisata akan memiliki value proposition atau keunggulan kompetitif yang kuat dibanding kompetitor, sehingga mampu bertahan (sustain) di tengah situasi pasar yang menantang,” tambahnya.

Dari sudut pandang akademis, Direktur Politeknik Pancasakti Tegal, Prayitno, menyoroti bahwa pariwisata merupakan bagian dari industri kreatif yang sangat dinamis. Menurutnya, di era digital saat ini, loyalitas konsumen cenderung cair karena wisatawan selalu mencari pengalaman baru yang menarik dan instagramable.

” Tren hari ini menunjukkan wisatawan datang untuk berfoto, menikmati suasana, lalu berjalan-jalan. Jika pengelola tidak menghadirkan kreativitas dan inovasi yang berkelanjutan, konsumen akan dengan mudah beralih ke destinasi lain,” jelas Prayitno.

Prayitno juga mengingatkan pentingnya membangun hubungan interpersonal yang baik antara pengelola dan pengunjung. Sebuah program atau fasilitas baru di objek wisata hanya akan sukses jika dirancang berdasarkan kebutuhan dan ekspektasi riil dari wisatawan, bukan sekadar keinginan pengelola.

” Prinsip ekonominya sederhana, hubungan antara penjual dan pembeli harus mengutamakan kebutuhan pembeli terlebih dahulu. Selain inovasi program, pemeliharaan fasilitas fisik tempat wisata secara berkala juga menjadi kunci vital agar pengunjung merasa nyaman dan memberikan respon positif,” pungkasnya. (CF)

 Penulis : Chairul Falah | Editor dan Publish : Chairul Falah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *