Tingkatkan Kesehatan Keluarga, PKK Adiwerna Gelar Workshop Budidaya TOGA dan Jamu Kekinian

banner 468x60

Slawi FM – Guna meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA), Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kecamatan Adiwerna menggelar Pelatihan dan Workshop Tanaman Obat pada Sabtu, (13/06/2026) pagi.

Kegiatan yang diikuti oleh perwakilan kader PKK dari seluruh desa se-Kecamatan Adiwerna berlangsung interaktif dan dipenuhi antusiasme peserta.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

​Acara resmi dibuka oleh Ketua TP PKK Kecamatan Adiwerna, Novi Utami. Dalam sambutannya, Novi mengajak para kader untuk mengoptimalkan pekarangan rumah dengan tanaman obat sebagai langkah awal membangun gaya hidup sehat di lingkungan keluarga.

” Jadi mulai sekarang kita bisa mulai memanfaatman pekarangan rumah kita untuk menanam tanaman obat,” ungkapnya.

​Senada dengan hal tersebut, Camat Adiwerna, Wuryanto, yang turut hadir dalam acara, memberikan dukungan penuh terhadap agenda edukatif ini.

Menurutnya, program ini menjadi langkah strategis dalam pemberdayaan masyarakat sekaligus upaya melestarikan budaya minum jamu di era modern.

” Kami mendukung dan mensuport kegiatan ini yang bertujuan selain melestarikan budaya juga sebagai edukasi manfaat tanaman obat,” jelasnya.

​Untuk memberikan pemahaman secara komprehensif, panitia menghadirkan tim ahli dari UPT Wisata Kesehatan Jamu (WKJ) sebagai fasilitator.

Para peserta dibekali materi mulai dari pengenalan jenis tanaman obat, khasiat bagi kesehatan, hingga teknik budidaya yang efektif di lahan terbatas.

​Selain membedah teori, para peserta juga diajak langsung melakukan praktik pembuatan jamu tradisional dan inovasi minuman herbal kekinian.

Tim WKJ mendemonstrasikan cara mengolah rempah-rempah seperti kunyit, jahe, dan serai menjadi minuman ala kafe yang menarik secara visual tanpa mengurangi khasiat alaminya.

​Melalui pelatihan ini, para kader PKK diharapkan tidak hanya menerapkan ilmu yang didapat untuk konsumsi pribadi, tetapi juga mampu menjadi agen edukasi kesehatan di desa masing-masing.

Di samping itu, keterampilan meracik minuman herbal modern ini dinilai berpotensi membuka peluang usaha mikro yang berbasis pada kearifan lokal.

​Kegiatan ini diharapkan menjadi pemantik bagi masyarakat luas untuk kembali mencintai dan memanfaatkan jamu sebagai warisan budaya bangsa yang menyehatkan sekaligus bernilai ekonomi tinggi. (CF)

Kontributor : UPT WKJ | Editor dan Publish : Chairul Falah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *