Melalui Lintas Agama, Kabupaten Tegal Menyuarakan Kedamaian dan Toleransi

banner 468x60

Slawi FM – Di momen pasca perayaan Idul Fitri 1446 H, LPPL Radio Slawi FM mengadakan kegiatan talkshow lintas agama yang dipandu oleh Merry Honey bertempat di Studio Radio Slawi FM pada Jumat (04/04/2025) pukul 09.00 – 10.00 WIB.

Talkshow tersebut dihadiri oleh Tokoh Agama Islam KH. Husni Faqih, Pendeta Gereja Kristen Jawa (GKJ) Slawi Sugeng Prihadi, Tokoh Agama Katolik Dody Haksman Adi, dan Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Tegal Ida Bagus Nyoman Laksana.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Dalam kesempatan tersebut, KH. Husni Faqih menjelaskan tentang toleransi dalam beragama menurut Agama Islam adalah sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan, baik dalam agama, keyakinan, maupun pandangan. Toleransi dalam Islam berlaku bagi semua orang, baik sesama muslim maupun non-muslim. Toleransi juga berarti menerima keberagaman agama tanpa diskriminasi.

“ Ayo para umat muslim khususnya di Kabupaten Tegal agar saling menghargai perbedaan. Karena toleransi ini adalah perintah Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Salah satu contohnya hari ini kita berkumpul di Slawi FM melaksanakan Talkshow bersama lintas agama seperti Islam, Katolik, Kristen dan Hindu agar saling menghormati dan menghargai perbedaan dengan tujuan sama yaitu menciptakan kedamaian,” tutur Husni Faqih.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Tegal Ida Bagus Nyoman Laksana mendukung toleransi antar umat beragama untuk memperkuat persatuan dan kesatuan khususnya di wilayah Kabupaten Tegal. Ia juga menerangkan sejarah singkat Hari Raya Nyepi yang bermula adanya pertikaian antar suku bangsa di India, seperti Saka, Pahiava, Yavana, Yueh Chi, dan Malaya pada tahun 78 Masehi. Dan pertikaian ini dimenangkan oleh suku saka yang dipimpin oleh Kaniska 1. Maka perayaan ini berkaitan dengan upaya menyatukan bangsa India dan negara-negara di sekitarnya.

Perayaan Hari Raya Nyepi ini bertujuan untuk menyucikan diri dan alam, serta menyambut tahun baru dengan penuh harapan yang jatuh pada Tanggal 1 Bulan 1 Tahun 1 Saka sebagai bertanda mulainya bertahta Raja Kaniska.

“ Hari Raya Nyepi tahun 2025 ini jatuh pada Bulan Maret kemarin dan rangkaian kegiatan Hari Raya Nyepi diantaranya melaksanakan upacara Melasti (penyucian diri), Tawur Kesanga, Ngembak Geni, Hari Raya Nyepi dan Catur Brata atau melakukan menahan diri. Pantangan saat Nyepi Tidak bepergian, Tidak menyalakan api, Tidak mengujarkan kalimat tertentu, Tidak bersenang-senang. Jadi nyepi ini digunakan untuk lebih kepada koreksi diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan,” jelas Bagus Nyoman.

Tokoh Agama Katolik Dody Haksman Adi mengucapkan terima kasih kepada LPPL Radio Slawi FM yang telah memberikan kesempatan untuk mengisi acara talkshow ini khususnya untuk masyarakat yang beragama Katolik. Agama Katolik tentunya memiliki hari besar yaitu Paskah adalah hari raya umat Kristiani yang memperingati kebangkitan Yesus Kristus dari kematian.

“ Kami bersyukur kepada Tuhan bahwa tahun 2025 ini dijadikan tahun rahmat. Tuhan memberi pengharapan kepada umatnya diantaranya rahmat keselamatan, kesehatan, kebahagiaan, rezeki dan sebagainya. Dengan paskah yang akan datang kami sedang mempersiapkan atau pra paskah salah satunya selama 40 hari kita melaksanakan pertobatan dengan menjalankan pantang dan puasa. Pantang berarti menahan diri dari sesuatu yang baik, sedangkan puasa berarti mengurangi asupan makanan,” ungkap Dody.

Sementara itu, Pendeta Gereja Kristen Jawa (GKJ) Slawi Sugeng Prihadi mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Nyepi dan Hari Paskah. Untuk perayaan paskah ini tidak ada perbedaan mencolok antara Agama Katolik dan Kristen misalkan di Agama Kristen puasa dilaksanakan bagi mereka yang kuat menjalankannya. Maka paskah ini mengandung dua arti menurut perjanjian lama adalah melewati dan perjanjian baru kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Paskah berasal dari kata di Alkitab Ibrani yang pertama kali sering disebut dalam keluaran sedangkan dalam kalimat Inggris diterjemahkan dengan kata “Passover” yang artinya melewatkan.

“ Dalam perayaan paskah ini setelah melaksanakan pasca paskah biasanya akan muncul sinar yang kami anggap sebagai sinar kehidupan kebangkitan yesus kristus sebagai paskah,” ujar Sugeng.

Perlu diketahui bersama bahwa, toleransi beragama adalah satu kata yang sangat mutlak dan harus dimiliki oleh masing-masing sebagai umat yang beragama. Maka seluruh agama tentunya mengajarkan tentang toleransi dan kedamaian seperti Semboyan Bhineka Tunggal Ika memiliki makna sesuai dengan keberagaman Indonesia yang tidak hanya bersuku-suku, ber ras-ras, dan berbudaya tetapi memiliki makna yang jauh lebih luas yaitu berbeda satu sama lain, namun tetap satu tujuan. (CF)

Penulis : Chairul Falah | Editor dan Publish : Chairul Falah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *