Perkuat Sinergi Pusat dan Daerah, Balai Bahasa Jateng Gelar Rakor Pelindungan Bahasa Daerah 2026

banner 468x60

Slawi FM – Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah menyelenggarakan Rapat Koordinasi (Rakor) dengan Pemerintah Daerah terkait Kebijakan Pelindungan Bahasa Daerah di Aula Cipto Mangunkusumo pada Rabu, (01/04/2026) kemarin.

Pertemuan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat pelestarian bahasa daerah, khususnya di sektor pendidikan. Rakor tersebut dihadiri oleh kepala dan perwakilan Dinas Pendidikan dari 35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Acara dibuka secara daring oleh Kepala Pusat Pelindungan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, yang diwakili oleh Kepala Bidang Fasilitasi dan Advokasi, Adi Budiwiyanto.

Dalam sambutannya, Adi menekankan bahwa pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa serta sastra daerah merupakan kewajiban bersama antara pemerintah pusat dan daerah.

“ Sinergi antara pusat dan daerah sangat krusial. Keberpihakan pemerintah daerah sangat diperlukan untuk mencapai tujuan pelestarian ini,” tegas Adi melalui platform Zoom.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Dwi Laily Sukmawati memaparkan laporan capaian program tahun 2025 serta rencana kerja untuk tahun 2026. Laily menyebutkan bahwa revitalisasi bahasa daerah telah konsisten berjalan selama enam tahun.

Beberapa capaian signifikan pada tahun 2025 meliputi 1 Dokumen Komitmen Bersama dari 35 kabupaten/kota, 14 Materi Bahan Ajar untuk jenjang SD dan SMP. 979 Peserta Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI), 240 Guru Utama yang telah dilatih, 1 Pemecahan Rekor MURI dan Pengimbasan program kepada ribuan guru dan siswa di seluruh Jawa Tengah.

Untuk tahun 2026, agenda utama pelindungan bahasa daerah adalah pelaksanaan FTBI yang direncanakan bertempat di Universitas Ngudi Waluyo (UNW). Kompetisi ini akan mencakup tujuh mata lomba, disusul dengan kegiatan Kemah Sastra yaitu Penulisan Cerkak bagi para pemenang.

Sementara itu, Rektor UNW Subyantoro menyatakan dukungannya dengan menyebut bahasa daerah sebagai identitas keragaman budaya. Beliau menegaskan bahwa perguruan tinggi berperan dalam penguatan SDM, riset kurikulum, serta pengembangan platform literasi siswa melalui kolaborasi dengan sekolah – sekolah.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Bidang Pembinaan Diksus Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Sunarto, mengingatkan bahwa keberlanjutan bahasa daerah ada di tangan generasi muda.

“ Bahasa daerah di Jawa Tengah harus tetap hidup, berkembang, dan diwariskan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Kegiatan ini juga ditandai dengan penandatanganan Rencana Kerja Sama (RKS) antara Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah dan Universitas Ngudi Waluyo sebagai bentuk kolaborasi teknis pelaksanaan FTBI 2026. Selain itu, seluruh perwakilan dari 35 Dinas Pendidikan turut menandatangani Komitmen Bersama pelindungan bahasa daerah.

Sesi diskusi menghadirkan tiga narasumber utama yaitu Prof. Dr. Subyantoro, M.Hum. (UNW), “Komitmen dan Sinergi Perguruan Tinggi dan Pemerintah”, Sutarmo, M.Pd. (Disdik Surakarta), “Praktik Baik Pelindungan Bahasa Daerah di Kota Surakarta, Dari Tuan Rumah hingga Juara Umum FTBI”, dan Dewi Nirmala Anggarini, M.Pd. (Disdikpora Kabupaten Semarang), “Kebijakan Pelindungan Bahasa Daerah di Lingkungan Dinas Pendidikan”. (CF/FRA/NHM/AS).

Penulis : Faustina Rosa Azalia, Nurul Hanifah Maghfirotun dan Agus Sudono | Editor dan Publish : Chairul Falah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *