Antisipasi Kepunahan Bahasa Ibu, Balai Bahasa Jateng Gelar Bimtek Revitalisasi untuk Guru SD

banner 468x60

Slawi FM – Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Guru Utama Pelindungan Bahasa Daerah Jenjang Sekolah Dasar (SD) yang berlangsung selama empat hari, Minggu – Rabu (17-20 Mei 2026).

Kegiatan ini diinisiasi sebagai langkah strategis untuk mengantisipasi penurunan penggunaan bahasa daerah di kalangan generasi muda.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

​Diselenggarakan di Gedung Balairung, acara ini melibatkan 105 guru SD dan 7 pengawas SD yang mewakili 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, serta didampingi oleh 21 pakar bahasa dan sastra.

​Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Dwi Laily Sukmawati, mengapresiasi kontribusi para pakar yang berkomitmen mengawal Program Pelindungan Bahasa Daerah. Ia menegaskan pentingnya efek domino dari pelatihan ini agar materi yang didapat segera ditransmisikan ke tingkat daerah.

“ Materi yang diterima dari pakar dan akan diimbaskan oleh peserta bimtek ini di wilayah masing-masing meliputi tujuh ranah, yakni membaca dan menulis aksara Jawa, menulis cerkak, macapat, mendongeng, pidato, komedi tunggal (ndhagel ijen), serta membaca geguritan,” ujar Laily.

​Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Fasilitasi dan Advokasi Bahasa dan Sastra, Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Badan Bahasa, Adi Budiwiyanto, menyoroti tantangan krusial yang dihadapi saat ini. Menurutnya, keengganan atau kurangnya intensitas orang tua dalam mewariskan bahasa daerah kepada anak menjadi ancaman serius.

​Melalui ruang virtual Zoom, Adi menjelaskan bahwa indikator keberhasilan utama dari bimtek ini bukanlah selesainya pelatihan, melainkan realisasi pengimbasan di lapangan.

Fungsi bahasa daerah bukan sekadar dokumentasi dan edukasi, melainkan memori kolektif bangsa dan wadah kearifan lokal. Selain itu guru merupakan ujung tombak dalam pelindungan bahasa daerah yang dituntut memberikan dedikasi serta waktu lebih demi melestarikan bahasa ibu,” jelas Adi.

​Melalui skema revitalisasi yang terstruktur ini, diharapkan anak-anak di Jawa Tengah dapat kembali akrab, bangga, dan fasih menggunakan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari. (CF/AS).

Penulis : Agus Sudono | Editor dan Publish : Chairul Falah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *