UMKM 2026, Di Antara Tekanan Global dan Urgensi Adaptasi Digital

banner 468x60

Slawi FM – Di tengah dinamika ekonomi global yang tidak menentu, Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dituntut untuk terus berinovasi dan adaptif terhadap tekanan pasar. Hal ini menjadi benang merah dalam diskusi strategis Halo Slawi FM yang melibatkan tokoh akademisi regional pada Senin (27/04/2026) pagi.

Direktur Politeknik Pancasakti Tegal, Prayitno, mengungkapkan bahwa tahun 2026 menjadi periode yang berat bagi UMKM. Kendala utama terletak pada pasokan bahan baku impor yang terhambat serta rendahnya realisasi penyaluran kredit program pemerintah.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

” UMKM sering kali terlupakan saat ekonomi membaik, namun dipaksa menjadi pahlawan saat ekonomi memburuk. Saat ini, mereka kesulitan bersaing karena perubahan regulasi klasifikasi modal mikro yang kini dipatok di bawah Rp 1 miliar,” ujar Prayitno.

Ia menambahkan bahwa regulasi baru ini membuat pelaku usaha kecil harus bersaing langsung dengan pemain menengah yang memiliki modal lebih kuat. Selain itu, program UMKM Go Digital dinilai lebih realistis bagi usaha menengah, sementara bagi pelaku usaha mikro, biaya operasional digital sering kali tidak sebanding dengan margin keuntungan yang tipis.

Senada dengan hal tersebut, Guru Besar Universitas PGRI (UPGRIS) Semarang, Sutrisno, menekankan pentingnya membaca perubahan perilaku konsumen yang kini sangat sensitif terhadap harga.

” Kenaikan komponen pendukung seperti harga plastik kemasan sangat menekan UMKM. Jika mereka menaikkan harga jual sedikit saja, konsumen cenderung beralih ke kompetitor. Strategi bertahan akhirnya dilakukan dengan mempertahankan harga lama meski margin tergerus,” jelas Sutrisno.

Meski dibayangi tekanan, Sutriso menegaskan bahwa digitalisasi tetap menjadi keharusan. Saat ini, adaptasi minimal seperti penggunaan sistem pembayaran QRIS sudah merambah hingga pedagang angkringan. Apalagi  tekanan pasar saat ini harus dipandang sebagai sinyal untuk bertransformasi baik transformasi digital, efisiensi produksi maupun aksesibilitas perbankan.

“ Jadi tanpa dukungan regulasi yang memihak dan kemampuan adaptasi yang cepat, UMKM berisiko tertinggal dalam persaingan pasar yang kian kompetitif dan serba digital,” pungkasnya. (CF)

Penulis : Chairul Falah | Editor dan Publish : Chairul Falah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *