Slawi FM – Provinsi Riau terus berupaya bersolek di panggung pariwisata nasional dan mancanegara. Kedekatan geografis dan ikatan emosional memang menjadikan Malaysia sebagai “pemasok” wisatawan mancanegara (wisman) terbesar bagi Provinsi Riau. Fenomena ini bukan hal baru, namun tetap menjadi motor utama penggerak ekonomi di sektor pariwisata Riau.
Demikian yang dikatakan oleh Dewan Pengurus Daerah Indonesian Hotel General Manager Association (DPD IHGMA) Riau Dwi Sutrisno dalam Program Halo Slawi FM pada Kamis (09/04/2026) pagi.
Menurut Sutrisno, wisman asal Malaysia mendominasi kunjungan ke Riau karena beberapa faktor diantaranya kedekatan geografis dan aksesibilitas, hubungan emosional dan budaya (Rumpun Melayu) dan wisata belanja dan kesehatan serta kuliner.
Namun, fenomena “pasang surut” pengunjung ini memang menjadi tantangan klasik bagi destinasi wisata di Riau. Lonjakan drastis pada libur Lebaran 2026 kemarin menunjukkan bahwa minat masyarakat untuk berwisata sebenarnya sangat tinggi, namun sifatnya masih sangat situasional atau musiman (seasonal).
“ Wisata di riau meningkat ketika menjelang persiapan lebaran. Setelah lebaran usai pasti pengunjung mengalami penurunan bahkan sepi,” tuturnya.
Sementara itu, Direktur Politeknik Pancasakti Tegal mengatakan bahwa sektor pariwisata di tahun 2026 ini memang sedang menghadapi tantangan yang cukup berat. Meskipun sempat ada harapan besar pada lonjakan libur Lebaran lalu, namun secara akumulatif angka kunjungan memang menunjukkan tren penurunan hingga 30 – 40 persen.
Meskipun sektor pariwisata secara umum sedang lesu, wisata pantai tetap menjadi primadona dan pengecualian yang selalu ramai.
“ Kita bisa melihat sendiri kalau dipantai pasti ramai pengunjung. Lesunya sektor wisata adalah cerminan langsung dari menurunnya ekonomi masyarakat, mengingat wisata merupakan kebutuhan yang baru akan terpenuhi jika ada anggaran lebih,” jelasnya.
Prayitno juga menegaskan bahwa kemajuan budaya dan wilayah adalah fondasi. Tanpa budaya, wisata tidak punya jiwa. Tanpa wilayah yang maju, wisata tidak punya raga (infrastruktur). Jika keduanya digabungkan dengan stabilitas ekonomi masyarakat, maka pariwisata akan menjadi sektor yang paling tangguh.
“ Wisata adalah bisnis yang sustainable tidak pernah terputus. Namun wisata dapat terputus jika pentahelix tidak pernah bersatu,” tambahnya.
Menutup dialog dalam program Halo Slawi FM, Sutrisno berharap agar seluruh elemen dapat bersinergi. Ia berharap dengan kolaborasi yang baik antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, Riau mampu bangkit menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Indonesia.
“ Target kita tidak hanya secara regional, tetapi juga merambah ke level internasional,” tandasnya. (CF)
Penulis : Chairul Falah | Editor dan Publish : Chairul Falah








