Slawi FM – Ketepatan data produksi padi menjadi kunci utama dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Namun, pernahkah terbayangkan bagaimana cara Badan Pusat Statistik (BPS) menghitung jumlah gabah yang dihasilkan petani di hamparan sawah yang begitu luas.
BPS Kabupaten Tegal menjelaskan bahwa penghitungan produksi padi saat ini telah menggunakan teknologi mutakhir yang memadukan pengamatan satelit dan pengecekan langsung di lapangan. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir kesalahan dan memastikan data yang dihasilkan akurat serta objektif.
Demikian yang dikatakan oleh Statistis Muda sekaligus Ketua Tim Indikator Pertanian Terintegrasi BPS Kabupaten Tegal Adibatul Hasanah dalam Program Live Talkshow di Studio Radio Slawi FM pada Kamis, (09/04/2026) siang.
Menurut Adibatul, angka – angka yang dirilis BPS bukanlah sekadar estimasi di atas kertas, melainkan hasil dari pengamatan dan pengukuran langsung oleh petugas di lapangan. Proses penghitungan produksi padi merupakan hasil sinergi dari dua survei utama yang sangat teknis.
” Angka produksi padi itu bukan sekadar perkiraan. Kami menggunakan dua instrumen utama yaitu Kerangka Sampel Area (KSA) Padi untuk menentukan luas panen, dan Survei Ubinan Padi untuk mengukur produktivitasnya,” tuturnya.
Adibatul menjelaskan bahwa dasar penghitungan luas panen mereka menggunakan metode Kerangka Sampel Area (KSA). Metode ini bukan sekadar rutinitas internal, melainkan buah kolaborasi besar antara BPS dengan BPPT, BIG, LAPAN, serta Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR/BPN).
” Melalui KSA, kami memantau kondisi tanaman padi di lapangan melalui titik-titik sampel yang dipilih secara ketat lewat kaidah statistik,” ungkapnya.
Adibatul menggambarkan bahwa metode KSA bekerja layaknya sebuah kamera raksasa yang memotret kondisi persawahan secara sistematis. Sedangkan untuk memastikan seluruh wilayah terwakili, wilayah pengamatan dibagi ke dalam kotak-kotak peta yang terukur.
” Secara sederhana, wilayah dibagi menjadi kotak besar, lalu diperkecil lagi menjadi segmen berukuran 300 x 300 meter. Di dalamnya, masih dibagi lagi menjadi kotak lebih kecil atau subsegmen berukuran 100 x 100 meter. Titik-titik inilah yang menjadi lokasi pengamatan tetap petugas kami,” urai Adibatul.
Adapun khusus di wilayah Kabupaten Tegal, akurasi ini dikawal melalui 837 titik pengamatan KSA Padi yang tersebar secara merata di 18 kecamatan. Bukan sekadar perkiraan, petugas BPS wajib mendatangi langsung 837 titik tersebut setiap bulannya. Dengan bantuan aplikasi berbasis Android, mereka melaporkan fase pertumbuhan tanaman secara nyata (real-time).
” Kami mengikuti perkembangan padi dari waktu ke waktu. Mulai dari fase vegetatif (pertumbuhan awal), fase generatif, hingga saatnya panen tiba. Semua dilaporkan langsung dari sawah melalui aplikasi,” tambahnya.
Diakhir talkshow, Adibatul memberikan apresiasi tinggi kepada para pelaku sektor pertanian yang telah membantu kelancaran Survei Ubinan standar nasional untuk menentukan hasil panen per hektar.
” Kami mewakili BPS Kabupaten Tegal mengucapkan terima kasih kepada para penebas, pemilik combine harvester, juragan, dan petani atas dukungannya. Kolaborasi yang baik antara petugas dan pelaku panen adalah kunci keberhasilan data yang akurat,” pungkasnya. (CF)
Penulis : Chairul Falah | Editor dan Publish : Chairul Falah








