Pulihkan Ekosistem Lereng Slamet, Reboisasi Digalakkan demi Amankan Wisata Guci dari Banjir

banner 468x60

Slawi FM – Bencana banjir bandang yang menerjang Obyek Wisata Guci baru-baru ini bukan sekadar musibah musiman. Peristiwa ini adalah “alarm” keras bahwa ekosistem alam telah mencapai titik jenuh. Upaya reboisasi dinilai akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan perubahan atau “restart” pada konsep pengembangan wisatanya.

Pernyataan tegas tersebut disampaikan oleh Direktur Politeknik Pancasakti Tegal, Prayitno, dalam Talkshow Pagi di Studio Radio Slawi FM, pada Selasa (27/01/2026) pagi.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Prayitno menekankan bahwa menyelamatkan Lereng Gunung Slamet tidak bisa dilakukan secara sektoral. Dibutuhkan kerja sama Pentahelix untuk memulihkan ekosistem dan menata ulang wisata Guci.

” Alam adalah sistem yang saling terhubung. Dalam orkestrasi Pentahelix, peran pemerintah, pelaku industri perhotelan, masyarakat, akademisi, hingga media sangat besar. Tujuannya agar efek sosial, ekonomi, dan lingkungan tetap terjaga secara seimbang,” ujar Prayitno.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Aliansi Lereng Gunung Slamet (ALGS) Tegal, Abdul Khayyi, mengungkapkan fakta mengkhawatirkan dari hasil pantauan lapangan bersama masyarakat adat. Kerusakan masif di area hutan lindung menjadi pemicu utama bencana.

” Kawasan yang seharusnya menjadi benteng pepohonan kini telah beralih fungsi menjadi lahan pertanian terbuka. Jika hujan lebat kembali turun, banjir bandang susulan hanya tinggal menunggu waktu,” tegas Khayyi.

Sebagai langkah nyata, ALGS bersama warga Guci kini menerapkan konsep penanaman yang berbeda. Tidak hanya menanam, mereka juga membangun selter-selter untuk satgas pemantau guna memastikan pohon tumbuh dengan baik sekaligus memutus rantai pengrusakan hutan.

Sementara itu, Pengelola Obyek Wisata Bukit Bintang, Marsono, menyoroti sisi historis dan sistemik dari kerusakan ini. Menurutnya, alih fungsi lahan yang sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu memerlukan intervensi kebijakan yang berani dari pemerintah.

” Pemerintah tidak boleh hanya sekadar memasang papan larangan. Harus ada solusi konkret untuk menjembatani transisi dari pertanian yang merusak ke ekonomi lestari,” kata Marsono.

Dampak nyata dari bencana ini sangat dirasakan oleh warga asli Guci. Ali Burhan, salah satu tokoh warga, mengaku miris melihat nadi ekonomi masyarakat yang lumpuh akibat banjir bandang.

Sebagai bentuk tanggung jawab, masyarakat setempat telah membentuk Perkumpulan Masyarakat Adat Reksawana Guci yang terdiri dari tokoh pemuda dan pelaku usaha. Mereka berkomitmen mengawal setiap aksi pemulihan hutan agar tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial.

” Kami terbuka bagi siapa pun yang ingin mengadakan aksi reboisasi. Silakan hubungi kami di nomor 081215279702. Kami akan bantu pantau perkembangan pohon yang ditanam agar benar-benar tumbuh,” tambah Burhan.

Menutup perbincangan, Burhan menegaskan bahwa saat ini bukan waktunya mencari siapa yang salah. Fokus utama harus dialihkan sepenuhnya pada aksi pemulihan hutan lindung di Lereng Gunung Slamet demi masa depan generasi mendatang. (CF)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *