Slawi FM – Dalam sejarah peradaban manusia, teknologi bisa menjadi usang dan digantikan, tetapi budaya adalah ruh yang membuat sebuah bangsa tetap hidup meskipun zamannya sudah berganti. Tegal adalah contoh nyata di Indonesia di mana kekuatan peradaban mereka tidak diukur dari gedung pencakar langit atau pabrik canggih, melainkan dari karakter manusia dan sistem sosialnya.
Demikian yang dikatakan oleh Direktur Politeknik Pancasakti Tegal Prayitno dalam Talkshow Pagi di Studio Radio Slawi FM pada Selasa (13/01/2025) pagi.
Menurut Prayitno, sejarah membuktikan bahwa negara-negara besar seperti Jepang, Korea Selatan, atau Prancis tidak hanya dikenal karena kekuatan militernya, tetapi karena Soft Power atau peradaban budayanya yang melintasi batas negara. Budaya Tegal pun memiliki DNA yang sama. Meskipun skalanya lokal, ia memiliki daya tahan ratusan tahun karena dibangun di atas fondasi kemanusiaan yang sangat kuat.
“ Terbukti di Indonesia termasuk Tegal dengan wilayahnya kecil, tetapi bisa mendominasi budaya ditingkat nasional,” ujar Prayitno.
Prayitno menuturkan bahwa budaya membutuhkan effort tinggi dan budaya mencerminkan masyarakatnya. Baik dan buruknya budaya bergantung pada munculan dari budayawan. Manakala budayawan mencerminkan keburukan, maka cermin pula masyarakat buruk. Namun apabila yang dihasilkan dari budayawan hal – hal baik, tentunya mengembangkan dan mencerminkan serta mendapat kebarokahan dari masyarakat tersebut.
Sementara itu, Budayawan Tegal Atmo Tan Sidik mengutip pernyataan mendiang WS Rendra bahwa Tegal adalah kota yang tidak pernah tidur, bukan sekadar kiasan mengenai keramaian fisik, melainkan sebuah pengakuan terhadap vitalitas peradaban masyarakat dan pembangunannya. Bahkan ada beberapa tokoh yang nyaman di Tegal diantaranya tokoh Konghucu Kwee Lak Tuan, Tokoh Belanda Van De Russ, Tokoh Arab Habib Al Hadad, Mbah Panggung dan Raja Jawa Amangkurat.
“ Kekuatan utama pada budaya tegal itu pada nyedulur dan grapyak. Contohnya ketika terkena musibah ada istilah Tegalarane Ora Tegapatine artinya tega melihat sakitnya/penderitaannya, tapi tidak tega melihat kematiannya/hancurnya. Tegawasel Tegalarane yaitu tega (ikhlas) memberi modal/bekal, tega (berani) menanggung pedihnya. Tegalane Ora Patine artinya tega pada jalannya (pilihannya), tapi tidak tega pada kematiannya serta Tegapatine Ora Tegalayade yaitu Berani mati (mempertaruhkan nyawa), tapi tidak tega membiarkan kehinaan/kesia-siaan,” ungkap Atmo.
Atmo menambahkan bahwa kini generasi tengah menghadapi Trigatra Bangun Bahasa yang bertujuan untuk memastikan orang Tegal menjadi warga dunia (Global Citizen), mereka tidak menjadi “asing” bagi dirinya sendiri. Mereka tetap Ngapak di hati (Lestarikan Bahasa Daerah), Indonesia di jiwa (Utamakan Bahasa Indonesia), dan Mendunia dalam karya (Kuasai Bahasa Asing).
“ Hari ini tegal pada umumnya ada satu keadaan psikologis harus menjadi perhatian kita bersama. Dimana semua orang merasa bisa semuanya karena adanya google. Kita akui generasi sekarang generasi cerdas, tetapi kurang menghargai persoalan etika atau moralitas. Yuk bareng mikir karo dzikir endah wong pesisir ora kesingkir. Nyambut gawe sag seg endah mengane wareg, nyandange rapet, turune anget, medange buket pas pasedulurane kraket. Bisa lunas bayar pajeg, uripe tata nyanding literasi waskita,” pungkasnya. (CF)
Penulis : Chairul Falah | Editor dan Publish : Chairul Falah








