Atribut Budaya Jadi Kekuatan Branding Wisata

banner 468x60

Slawi FM – Budaya merupakan salah satu aset terpenting yang dimiliki sebuah destinasi wisata. Dengan strategi yang tepat, budaya dapat menjadi magnet kuat untuk menarik wisatawan asing, memberikan mereka pengalaman otentik yang tidak bisa mereka temukan di tempat lain.

Demikian yang dikatakan oleh Owner Different Tour Bali Nyoman Sujana dalam Program Halo Slawi FM dipandu oleh Sofia pada Jumat (26/09/2029) siang.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Menurut Sujana, mempromosikan pariwisata melalui budaya adalah strategi yang sangat efektif untuk menarik wisatawan yang mencari pengalaman otentik dan bermakna. Dibandingkan hanya menjual keindahan alam, budaya menawarkan cerita dan koneksi emosional yang lebih dalam.

“ Berdasarkan pengalaman kami di Bali memang unik bagi wisatawan asing. Tapi keunikan dan keindahan alam berasal  dari diri kita sendiri dengan kesadaran menjadikan yang terindah menjadi terbaik dalam hal orang asing maupun saudara – saudara kita yang mengunjungi Bali,” tutur Sujana.

Sujana mengatakan bahwa pihaknya melakukan kegiatan promosi dengan memanfaatkan media sosial sebagai alat promosi keindahan dan keunikan destinasi wisata baru seperti situs – situs atau ulasan – ulasan  yang ada di Wonosobo, Magelang, Yogyakarta, Lumajang, Blitar dan lain – lain.

“ Jadi kita harus membuat sebuah ilustrasi, strategi sastra yang mampu menarik orang membaca. Sehingga mereka seperti membaca dongeng menarik serta mengunjungi wisata adat istiadat dan tempat suci atau pura dengan memakai pakaian adat Bali. Hal ini sebagai upaya promosi wisata dengan budaya,” terang Sujana

Sementara itu, Direktur Politeknik Pancasakti Tegal Prayitno menjelaskan, bahwa sastra, sebagai salah satu atribut budaya, memegang peran penting dan sering kali terabaikan dalam promosi wisata. Ketika dikemas dengan baik, sastra memiliki kekuatan untuk menarik wisatawan karena tidak hanya menjual tempat, tapi juga cerita, imajinasi, dan emosi.

“ Kita sebenarnya sudah bisa memanfaatkan atribut budaya sebagai media promosi wisata khususnya di Kabupaten Tegal seperti amangkurat, tombak kyai pleret, ki gede sebayu dan lain – lain. Tetapi kita tidak mendokumentasikan dan dibuatkan cerita yang baik serta budaya belum mendarah daging serta belum memerhatikan budaya dengan sungguh – sungguh,” ungkap Prayitno.

Prayitno menegaskan bahwa obyek wisata yang dijual adalah seni dan budayanya. Karena wisatawan asing umumnya menyukai destinasi wisata seni dan budaya. Mereka yang memiliki minat ini tidak hanya mencari hiburan, tetapi juga pengalaman yang lebih dalam dan edukatif.

“ Para wisatawan asing biasanya mencari wisata budaya yang membuat tenang, adem dan tentram contohnya di Bali. Ekosistem tersebut belum tercipta di Kabupaten Tegal,” pungkasnya. (CF)

Penulis : Chairul Falah | Editor dan Publish : Chairul Falah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *