Slawi FM – Gema takbir mungkin sudah mulai memudar, dan hiruk pikuk arus balik perlahan mulai stabil. Namun, tantangan sesungguhnya bagi masyarakat pasca lebaran bukanlah sekadar kembali ke rutinitas pekerjaan, melainkan bagaimana menjaga stabilitas dinamika sosial yang telah dihangatkan selama momen Idulfitri.
Fenomena pasca lebaran memang menjadi katalisator kuat bagi pertumbuhan ekonomi, khususnya di sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Jika dikelola dengan tepat, momentum ini bukan sekadar lonjakan musiman, melainkan fondasi bagi kenaikan kelas para pelaku usaha.
Demikian yang dikatakan oleh Ketua Komisi E DPRD Jawa Tengah Messy Widiastuti dalam Program Talkshow di Studio Radio Slawi FM, pada Sabtu, (28/03/2026) pagi.
Menurut Messy, secara ekonomi, fenomena naiknya pendapatan warga, sering disebut sebagai redistribusi kekayaan secara masif. Pergerakan uang yang biasanya berputar di pusat ekonomi (kota besar) berpindah ke daerah – daerah melalui tangan para pemudik.
“ Selain itu pada momen lebaran ini pemerintah telah memfasilitasi transportasi umum mudik gratis. Pemudik saat ini jumlahnya sedikit dibandingkan tahun lalu. Hal ini karena dampak dari PHK dan geopolitik yang tidak baik – baik saja,” ujar Messy.
Messy juga merasa perihatin terhadap para generasi muda yang menjadi korban petasan. Maka anak – anak harus memiliki pola pikir positif dengan beralih dari kegiatan berbahaya seperti petasan, menjadi kegiatan edukasi, keterampilan, spiritual maupun kegiatan positif lainnya. Sehingga mereka mendapatkan sesuatu sebagai bekal dalam hidupnya.
“ Jadi anak muda bisa mandiri dirumah membuat usaha kecil – kecilan maupun menjadi konten kreator yang hasilnya banyak hingga milyarder,” ungkap Messy.
Sementara itu, Anggota Komisi A DPRD Jawa Tengah Abdul Aziz menjelaskan bahwa eskalasi ketegangan antara Iran dan Israel memang menjadi variabel paling panas dalam stabilitas ekonomi global saat ini. Dampak dari konflik ini bukan sekadar berita mancanegara, melainkan ancaman nyata bagi kantong masyarakat di tingkat lokal.
“ Ketika menghadapi persoalan ini, kami mengajak kepada seluruh masyarakat untuk berhemat jangan boros BBM. Karena saat ini Pertamax Dex sudah mengalami kenaikan harga. Dalam situasi eskalasi tinggi, pentingnya narasi yang menenangkan namun tetap waspada sangat penting agar tidak terjadi panic buying di tengah masyarakat,” tutur Aziz.
Diakhir talkshow, Aziz mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, terutama bagi pihak kepolisian yang telah bekerja humanis dan melayani masyarakat dengan baik saat bertugas mengamankan mudik lebaran 2026.
” Evaluasi mudik lebaran 2026 ini lebih kepada urbanisasi masyarakat yang berkeinginan ke Jakarta. Padahal mencari nafkah di desa bisa mendapatkan penghasilan lebih dari di Kota. Ada istilah ” Wong Deso Berpenghasilan Kuto “. Mari menjaga silaturahmi dan toleransi agar apapun yang terjadi tidak saling menyalahkan, tetapi saling berbenah diri,” pungkasnya. (CF)
Penulis : Chairul Falah | Editor dan Publish : Chairul Falah








