Peringati Hari Bahasa Ibu Internasional, Generasi Muda Kunci Keberlangsungan Bahasa Lokal

banner 468x60

Slawi FM – Dunia hari ini kembali memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional (HBII) dengan sorotan tajam pada peran krusial generasi muda. Di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi bahasa digital, UNESCO menetapkan tema tahun 2026 ini yakni ” Youth Voices on Multilingual Education ” Suara Pemuda dalam Pendidikan Multibahasa.

Hal tersebut disampaikan oleh Widyabasa Ahli Madya, Shintya, dalam program Halo Slawi FM, pada Selasa (24/02/2026) pagi.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Dalam kesempatannya, Shintya mengulas sejarah kelam yang melatari lahirnya peringatan ini. HBII bermula dari peristiwa heroik sekaligus tragis di Pakistan Timur (kini Bangladesh) pada 21 Februari 1952.

Kala itu, pemerintah setempat memaksakan penggunaan bahasa Urdu sebagai satu – satunya bahasa resmi, meskipun mayoritas masyarakat menggunakan bahasa Bengali. Penolakan ini memicu demonstrasi besar – besaran dari kalangan mahasiswa.

” Tragedi tersebut memakan korban jiwa dari para mahasiswa yang memperjuangkan bahasa Bengali. Perjuangan para martir ini akhirnya berhasil, dan sebagai bentuk penghormatan, UNESCO meresmikan 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional pada tahun 1999,” jelas Shintya.

Meskipun diresmikan pada 1999, perayaan secara global baru dimulai pada tahun 2000. Artinya, tahun 2026 ini menandai 26 tahun perjalanan dunia dalam merawat keberagaman bahasa.

Shintya menekankan bahwa Indonesia memiliki kekayaan luar biasa dengan 718 bahasa daerah. Namun, di Jawa Tengah, ia menyoroti fenomena mulai pudarnya penggunaan bahasa Jawa di kalangan generasi muda. Fenomena Saat Ini, para generasi muda cenderung lebih sering menggunakan bahasa Indonesia yang dicampur dengan bahasa asing (Inggris).

“ Jadi bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan identitas dan sumber kearifan lokal. Seperti yang ada di Tegal meski sebagian pemuda masih menggunakan bahasa Tegal, kecenderungan beralih ke bahasa Indonesia tetap terlihat dalam praktik sehari – hari,” tutur Shintya.

Menutup perbincangan, Shintya berpesan agar pelestarian bahasa lokal dimulai dari unit terkecil, yaitu keluarga. Orang tua memiliki peran vital untuk mewariskan bahasa daerah kepada anak – anak mereka.

“ Jika anak-anak dibiasakan berkomunikasi dengan bahasa daerah di rumah, mereka akan lebih mudah menguasainya. Selain faktor keluarga, sangat penting untuk menciptakan lingkungan sosial yang mendukung penggunaan bahasa ibu agar tetap hidup dan tidak punah,” pungkasnya. (CF)

Penulis : Chairul Falah | Editor dan Publish : Chairul Falah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *