Slawi FM – Dalam rangka memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional (HBII), Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah menggelar acara bedah buku bertajuk Malaikat Cilik karya Ki Sudadi. Buku ini merupakan karya spesial yang berhasil mengantarkan penulisnya meraih Hadiah Sastra Rancage 2026. Acara dilaksanakan secara daring melalui platform Google Meet pada Kamis (19/02/2026).
Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Dwi Laily Sukmawati, secara resmi membuka kegiatan yang diikuti oleh sekitar seratus peserta dari kalangan akademisi, guru, peneliti, hingga pecinta sastra Jawa. Dalam sambutannya, Dwi Laily menekankan bahwa bedah buku ini bukan sekadar diskusi rutin.
“ Kegiatan ini adalah ruang dialog intelektual dan apresiasi estetik. Ini merupakan wujud komitmen kami dalam merawat bahasa daerah sebagai warisan budaya. Perlindungan bahasa ibu memerlukan partisipasi kolektif agar tetap lestari di tangan generasi muda,” ujarnya.
Ki Sudadi, sang penulis, membagikan sisi unik dari karyanya. Kumpulan cerpen (cerkak) yang terbit pada tahun 2025 ini berisi 25 judul pilihan. Ia berhasil menyisihkan 25 nomine lainnya dalam ajang Hadiah Sastra Rancage.
Berbeda dengan tren sastra populer, Ki Sudadi memilih jalan sunyi dalam bercerita. “Karya-karya saya cenderung memotret kehidupan orang-orang yang terpinggirkan, bukan sekadar kisah cinta atau romansa,” ungkapnya.
Hadir sebagai pembedah, sastrawan sekaligus dosen Universitas Muhammadiyah Purworejo, Junaedi Setiyono, membawakan materi bertajuk “ Kelebat Understatement dalam Kumpulan Cerkak Malaikat Cilik Ki Sudadi ”.
Junaedi menyoroti penggunaan teknik understatement yang serupa dengan Teori Gunung Es (Iceberg Theory) milik Ernest Hemingway. Dalam teknik ini, emosi yang meledak-ledak sengaja disembunyikan di balik kesederhanaan kata-kata.
“Understatement itu ibarat seseorang yang merasakan sakit luar biasa, namun ia hanya diam dan meneteskan air mata tanpa banyak bicara,” jelas Junaedi menggambarkan kedalaman makna dalam kesederhanaan tulisan Ki Sudadi.
Acara yang dipandu oleh Eko Wahyudi penulis dan guru SMP N 1 Karangsambung ini berlangsung interaktif. Para peserta antusias mendiskusikan penggunaan variasi dialek bahasa Jawa serta tema-tema sosial yang diangkat.
Eko menutup acara dengan harapan agar pencapaian Ki Sudadi menjadi pemantik semangat bagi sastrawan muda lainnya. Dengan adanya ruang-ruang diskusi seperti ini, diharapkan ekosistem sastra dan budaya Jawa akan terus tumbuh dan meluas. (CF/RH/FR/AS)
Penulis : Revalia H, Faustina Rosa A, Agus Sudono | Editor dan Publish : Chairul Falah








