Fenomena Cracked Attitude Mulai Mengancam Lingkungan Sekolah

banner 468x60

Slawi FM – Dunia pendidikan kembali diguncang oleh fenomena aksi kekerasan yang melibatkan guru dan siswa. Seorang guru dilaporkan menjadi korban pengeroyokan yang dilakukan oleh sejumlah siswanya sendiri di lingkungan sekolah. Insiden ini tentunya menjadi perhatian serius dan harus dilakukan penelusuran penyebab peristiwa itu terjadi.

Hal tersebut dikatakan oleh Peneliti sekaligus Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Halim Purnomo dalam Program Halo Slawi FM dipandu oleh Direktur Politeknik Pancasakti Prayitno di Yogyakarta pada Jumat (23/01/2026) pagi.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Menurut Purnomo, kekerasan terhadap guru bukan sekadar masalah disiplin, melainkan dampak dari literasi digital yang gagal. Siswa memiliki teknologi canggih di tangan mereka, namun tidak dibekali dengan kematangan emosional untuk menggunakannya serta hilangnya Sense of Crisis yaitu rasa memahami apa yang dialami oleh orang lain. Keretakan hubungan ini menjadi bukti bahwa dunia pendidikan sedang mengalami mati rasa secara kolektif.

“ Terkadang pemicunya karena emosi yang tidak terkontrol dan tidak melihat tingkat kesalahannya, tapi langsung menyalahkan tidak melakukan cek terlebih dahulu. Karena setiap persoalan pasti ada sebab dan akibat. Seorang guru juga harus menjalin komunikasi baik dengan siswa, wali murid dan lingkungan sekolah dan menjadi kontributor dengan mewarnai perilaku baik dari rumah, sekolah maupun di masyarakat,” tutur Purnomo.

Menanggapi rentetan insiden kekerasan siswa terhadap pengajar, praktisi sekaligus pemerhati pendidikan, Purnomo, memberikan catatan kritis bagi para orang tua. Menurutnya, keretakan karakter siswa sangat dipengaruhi oleh bagaimana mereka mengonsumsi konten di ruang digital tanpa filter. Maka orang tua tidak sekadar memberikan fasilitas gawai, tetapi juga hadir sebagai mentor digital.

Sementara itu, Dosen Politeknik Pancasakti Husni Iskandar menjelaskan bahwa ada beberapa faktor penyebab siswa melakukan kekerasan terhadap guru diantaranya faktor keluarga, lingkungan dan tekanan mental. Generasi sekarang mayoritas mereka tidak memiliki mekanisme pertahanan diri yang sehat seperti siswa zaman dulu yang lebih dekat dengan alam dan interaksi fisik yang nyata.

“ Saya amati faktor perkembangan teknologi ini menjadi kunci utama yang membuat siswa ini berani melakukan tindakan kekerasan terhadap guru dengan mencontoh perbuatan negatif melalui tayangan di platform digital. Misalnya kalau ada informasi kriminal yang ditayangkan langsung modusnya ini sebenarnya bahaya yang berakibat akan ditiru oleh siswa untuk melakukannya,” ungkap Husni.

Husni menegaskan bahwa meskipun dunia pendidikan sedang diuji oleh fenomena cracked attitude dan kekerasan, harapan untuk perbaikan karakter generasi muda masih terbuka lebar. Perkembangan teknologi yang pesat tidak seharusnya menghapus identitas moral. Sebaliknya, identitas itulah yang harus menjadi navigasi bagi siswa dalam menggunakan teknologi.

“ Harapan itu masih ada, selama kita mau kembali menoleh pada nilai-nilai yang telah membesarkan bangsa ini,” tandasnya. (CF)

Penulis : Chairul Falah | Editor dan Publish : Chairul Falah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *